Seribu Paragraf Cinta

karena pena bisa mengubah dunia...

Name:
Location: Jakarta, DKI, Indonesia

Tuesday, March 21, 2006

From This Moment On

From This Moment On

(I do swear that I'll always be there.
I'd give anything and everything and I will always care.
Through weakness and strength, happiness
and sorrow, for better or worse,
I will love you with every beat of my heart.)


From this moment life has begun
From this moment you are the one
Right beside you is where I belong
From this moment on

From this moment I have been blessed
I live only for your happiness
And for your love I'd give my last breath
From this moment on

I give my hand to you with all my heart
Can't wait to live my life with you, can't wait to start
You and I will never be apart
My dreams came true because of you

From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn't give
From this moment on

You're the reason I believe in love
And you're the answer to my prayers from up above
All we need is just the two of us
My dreams came true because of you

From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn't give
From this moment
I will love you as long as I live
From this moment on

written by Shania Twain and Mutt Lange

suatu hari akan kunyanyikan lagu ini...
suatu hari, di hari indah itu... hari yang tak terlupakan
ku berharap hari itu cepat-cepat datang.

why.



Thursday, March 09, 2006

Cermin Impian

Cermin Impian

Wahyu Ariabaskara

Di tengah gulita malam, saat semua orang tertidur, Harry Potter mengendap-endap dibalik jubah invisible cloak-nya, menyusuri koridor-koridor sekolah Hogwarts, hingga menemukan sebuah ruangan yang belum pernah ia lihat. Di dalam ruangan itu, Harry menemukan sebuah cermin. Betapa terkejutnya ia ketika memandang ke dalam cermin itu, bayangannya bukan hanya ada dirinya, melainkan bersama ayah-ibunya yang telah meninggal sejak ia kecil. Dalam cermin, kedua orang tuanya tersenyum di samping kiri-kanannya, memegang lembut pundak Harry.

Harry membangunkan teman baiknya, Ronald Weasly, untuk melihat benda ajaib itu, “Lihat Ron, ayah ibuku ada dalam cermin ini”

Alih-alih melihat kedua orang tua Harry, Ron sangat terkejut karena dalam cermin ia melihat bayangan dirinya sendiri mengenakan seragam quidditch yang begitu bagus dan sangat ia inginkan sejak dulu.

Harry masih terus tersenyum memandangi cermin itu saat Ron sudah kembali tidur. Berjam-jam ia habiskan untuk melihat bayangan dirinya bersama ayah ibu tercintanya dalam cermin. Malam telah beranjak amat larut, dan Harry masih terdiam disana.

“Begitulah sifat cermin impian ini” suara berat namun lembut itu menghampiri Harry. Kepala sekolah Hogwart, profesor Albus Dumbledore, tanpa ia sadari telah berada disampingnya.

“Itu cermin impian. Siapa yang memandangnya, akan mendapati bayangan dirinya sesuai dengan impian terbesar mereka. Kau melihat kedua orangtuamu, karena bertemu mereka adalah keinginanmu yang terdalam”

“Namun sayangnya, cermin ini lebih banyak memberi pengaruh buruk daripada pengaruh baik, Harry. Karena itulah cermin ini disembunyikan” Dengan sabar Albus Dumbledore menasihati Harry, layaknya nasihat seorang kakek pada cucunya.

Cerita diatas hanya sepenggal kisah yang terjadi dalam novel fiksi Harry Potter and The Sorcerers Stone karya JK Rowling. Dari segi tema cerita, novel ini memang sangat berbau syirik, karena mengetengahkan cerita tentang dunia sihir. Namun, di satu sisi kita perlu iri pada banyaknya pesan moral yang disampaikan.

Setidaknya, dalam sepotong cerita tadi, kitapun bisa mengambil pesan moral yang mendalam. Jika cermin diatas ada di dunia nyata, kira-kira apa yang akan kita lihat dalam cermin itu?

Sebagian besar dari kita mungkin akan melihat diri kita memegang banyak uang, atau mengenakan pakaian terindah, atau bergandeng tangan bersama pujaan hati kita. Yang belum menikah mungkin akan melihat dirinya mengenakan gaun pengantin bersama orang yang dicintainya, yang belum punya anak mungkin akan melihat dirinya menggendong manusia kecil yang lucu dan menggemaskan.

Setiap manusia normal mempunyai keinginan dan impian. Sejauh apa impian itu mempengaruhi seseorang, bergantung pada bagaimana orang itu menyikapi impian tersebut. Harry Potter, dalam cerita tadi, terhanyut dalam impian, keinginan hati terdalamnya untuk bertemu orang tuanya, hingga ia lupa pada keadaan diri, terus memandang cermin dan melupakan kenyataan hidupnya.

Demikian juga kita, mungkin juga bisa terhanyut dalam impian, angan-angan. Yang disayangkan jika angan-angan itu menghabiskan sebagian besar waktu kita, padahal waktu yang terbuang itu bisa kita manfaatkan untuk hal yang lebih berguna. Boleh-boleh saja bermimpi, apalagi jika mimpi itu menjadi cambuk yang memotivasi kita untuk berusaha mewujudkannya.

Impian selayaknya tidak menjadi ukuran kepuasan batin atau kebahagiaan seseorang. Kebanyakan orang bermimpi menjadi sesuatu atau mempunyai sesuatu, tetapi belum bisa bahagia, belum puas jika mimpi itu belum terpenuhi. Itulah mungkin yang dialami Harry dan Ron ketika melihat ke dalam cermin. Simak lagi kata-kata pamungkas Dumbledore pada Harry di malam mereka melihat cermin itu.

“Harry, orang yang paling bahagia, yaitu seseorang yang melihat cermin ini dengan bayangan sebenarnya seperti ia melihat cermin biasa.”

Jakarta, 22feb06.

Hidup yang Selalu Indah

Hidup yang Selalu Indah
Wahyu Ariabaskara

Sahabatku, teman setiaku dalam perjuangan,

Tak dapat terukur rasa bahagiaku, dikala menyadari betapa beruntungnya hidup sebagai seorang muslim. Memang, sunguh nikmat hidup menjadi muslim yang mengimani Allah dengan sepenuh hati. Engkau pasti mengerti sobat, orang yang beriman tidak pernah merasa begitu gelisah, karena dalam kamus hidupnya hanya ada dua keadaan, yaitu bersabar dan bersyukur. Bersabar saat menghadapi ujian, yakin bahwa Allah tidak akan menimpakan ujian pada hambaNya jika ia tidak mampu memikul ujian itu. Maka ada kepasrahan disana, ada nikmat yang begitu terasa saat kita bersimpuh dalam derita ujian, bersimpuh pada kekasih, sang khalik yang maha berkehendak.

Namun sahabat, bersyukur saat mendapat nikmat Allah, kadang-kadang lebih sulit dilakukan dari bersabar. Syukur kita atas nikmat Allah bukan sekadar mengucap Alhamdulillah, namun terwujud dalam perasaan hati, perkataan lisan, dan perbuatan. Perbuatan orang yang bersyukur yaitu memanfaatkan segala pemberian Allah dengan optimal dengan tujuan dan cara yang baik. Tujuan akhirnya jelas, mendapatkan ridhoNya, tapi caranya berbeda-beda sesuai dengan kapasitas pribadi masing-masing. Dengan demikian, manusia yang tidak memanfaaatkan pemberian Allah, jangan-jangan belum termasuk orang yang mensyukuri nikmat Allah. Sudahkah kita melakukannya? Atau kita termasuk orang yang membiarkan potensi kita tertidur?

Selain itu teman, orang beriman hanya menggantungkan dirinya pada Allah semata. Ia bersandar pada Allah, bukan pada harta simpanan, bukan pada wanita, bukan pada gaji, bukan pada perusahaan. Ketika ia mendapat gaji yang cukup, ia percaya bahwa gaji dari perusahaan hanyalah jalan dari Allah untuk mendapat rizki. Ketika ia mempunyai harta yang banyak, ia yakin semua itu titipan Allah. Bayangkan jika orang yang hidup bergantung pada harta simpanan, ketika harta simpanannya mulai habis, maka goyahlah dia. Jika seseorang hidup bersandar pada wanita, saat wanita meninggalkannya, maka terasa hancurlah seluruh hidupnya. Namun orang beriman, yang hanya bergantung kepada Allah, ketika kehilangan pekerjaan kantor, ia tidak putus asa, karena ia bersandar hanya Allah, ia yakin rizki Allah bisa datang darimana saja, tinggal sejauh apa ia berusaha menjemputnya.

Nah sobatku my dear,

Begitulah hidup orang mukmin. Selalu indah dalam sabar dan syukur. Mungkin hidup memang tak selalu terlihat indah jika kita melihat keindahan sebagai sesuatu yang membahagiakan hati secara batiniah. Teringat lirik lagu Padi “Dengarlah wahai kekasih, hidup tak selamanya indah…” mungkin memang benar, tidak selamanya yang kita alami di dunia ini adalah kenikmatan dan keindahan. Banyak juga aral rintangan dan cobaan yang pasti terjadi. Saat kita diuji, kita menghadapi masalah yang mungkin membuat kita merasa hidup ini tidak indah. Kehilangan pekerjaan atau kegagalan menuju pernikahan bukanlah hal yang indah untuk mereka yang mengalaminya.

Namun my dear, dibalik tidak nikmatnya cobaan hidup, ada makna yang begitu indah kita temui jika kita renungkan dengan objektif. Bukankah kita merasakan enaknya rasa manis saat kita tahu tidak enaknya rasa pahit? Karena itu, Allah menyuruh kita bersabar saat menghadapi ujian. Demikianlah sobat, jika direnungkan lebih jauh, hidup pribadi beriman selalu indah, selalu ada penghayatan, perenungan, makna baru, keindahan baru, baik saat mendapat nikmat, maupun saat mendapat ujian.

Ar-Ruhul Jadid, The New Spirit

Ar-Ruhul Jadid, The New Spirit

Wahyu Ariabaskara

Ketika rahmat Allah telah datang dari sekian penjuru mata angin, ucap puji syukur terhanturkan penuh takzim tertuju hanya pada Rabb yang memang paling pantas untuk dipuji. Semangat dalam diri kembali tumbuh layaknya reaksi kimia yang begitu dahsyat, menggelora hingga menggetarkan tubuh dan menciptakan sebuah kekuatan baru yang tiada tertandingi.

Cuaca terlihat begitu cerah dengan awan-awan menggantung di langit biru jagat raya yang amat luas. Kujelang lembaran pagi baru bersama sepenuh semangat jiwa yang terpatri begitu dalam. Ruas-ruas optimisme tergurat jelas dalam setiap pembuluh nadi. Harapan untuk menjadi lebih baik, untuk senantiasa tumbuh dan berkembang, telah menciptakan kesan yang begitu mendalam di hari ini. Hari untuk memulai hidup yang baru, meninggalkan yang lama.

Hari ini bukan hari istimewa. Bukan hari lahir, bukan pula tahun baru. Tak ada kue dan lilin menyala, pun tak ada ucapan selamat untuk hari spesial dari teman atau kiriman puisi dari seseorang yang istimewa. Hari ini hanya hari biasa layaknya hari-hari lainnya. Tetapi pada pagi ini, rasanya telah kutemukan jiwa baru, ruh baru, semangat baru, yang menghempaskan seluruh penat, malas, dan ragu. Kini, kenangan kegagalan masa lalu tak kan lagi membuatku trauma, tak kan lagi membuatku segan untuk mencoba, berusaha, bereksperimen, dan membuat berbagai strategi lain dalam menghadapi setiap masalah. Sungguh, rahmat Allah telah deras mengalir pada hari ini.

Semoga semangat ini, tetap ada hingga hari-hari berikutnya, memberikan energi-energi yang seolah tiada habisnya. Menyesal memang, jika aku ingat hari-hari yang lalu, semangat datang dan pergi silih berganti hingga tiada perubahan yang berarti. Kini telah tiba saatnya untuk memperbaiki diri. Di hari berikutnya, gelombang naik-turun semangat itu tak boleh lagi terlalu curam. Akan kuingat selalu visi misi, tujuan hidup, dan kecintaan Allah pada orang-orang yang konsisten dalam menjaga amal dan menunaikan amanah dakwah.

Dalam doaku setelah shalat, aku memohon pada Rabbku, semoga aku tidak terjebak dalam rutinitas kesibukan yang membuatku melupakan kewajiban untuk memperbaiki diri, melupakan kewajiban untuk senantiasa mengingatMu, serta melupakan kewajiban untuk menunaikan kewajiban yang Kau perintahkan.