Seribu Paragraf Cinta

karena pena bisa mengubah dunia...

Name:
Location: Jakarta, DKI, Indonesia

Tuesday, November 14, 2006

Bonus dari Vendor x ??????????

Untuk mengerjakan suatu proyek, perusahaanku menggunakan jasa beberapa subkontraktor dan vendor. Dulu, aku tidak terlalu peduli dengan beberapa vendor itu, aku bekerja untuk pekerjaan kantorku sendiri, dan mereka juga kubiarkan bekerja sesuai kewajiban mereka. Pada saat itu, pa Indra, rekan kerja saya di bagian QC, cukup dekat dengan salah satu vendor, katakan vendor X, dan banyak membantu vendor X itu.

Pada saat lebaran tiba, pa Indra mendapatkan tiket gratis pulang pergi ke kampungnya, diberikan cuma-cuma oleh vendor X. Aku tercengang dengan kabar itu, enak juga kalau dapat yang gratisan seperti pa Indra.

Dua minggu setelah lebaran, scope pekerjaan kantorku sudah selesai, dan hanya tinggal menunggu pekerjaan beberapa vendor lagi. Kali ini, aku membantu mereka semampuku. Kadang-kadang, kalau ada material yang mereka butuh dan tidak punya, aku ambil di warehouse kantorku dan memberikannya pada mereka cuma-cuma. Kadang-kadang juga aku bekerja hingga malam menemani mereka, ikut memberi alternatif solusi untuk beberapa masalah, dan melakukan pengetesan untuk mengetahui bagian mana yang masih harus diperbaiki.

Pekerjaan membantu vendor itu memang sudah semestinya menjadi tanggung jawabku, karena jika pekerjaan mereka tidak selesai atau gagal , kantorku juga yang harus bertanggung jawab. Namun, ada motivasi lain yang diam-diam tumbuh dalam hati kecilku. Ya, motivasi mendapatkan bonus cuma-cuma dari mereka, seperti yang didapat pa Indra beberapa waktuyang lalu.

Kini aku menyadarinya, motivasi mendapat uang terima kasih itu kian dominan dalam hatiku. Aku berpikir cukup lama akan hal ini, merenung dalam beberapa perjalanan pulang kantorku. Lalu aku berusaha kembali pada nilai-nilai yang hakiki. Aku tidak ingin terjebak dalam perasaan ini terus-menerus. Akhirnya, setiap kali kulangkahkan kakiku untuk menuju tempat kerja para vendor itu, aku berusaha bercermin untuk melihat isi hatiku, lalu kubersihkan niat itu, kuhilangkan harapan-harapan mendapat sesuatu dari mereka. Menjadikan alasanku membantu mereka adalah memang tanggung jawab pekerjaanku semata.