Seribu Paragraf Cinta

karena pena bisa mengubah dunia...

Name:
Location: Jakarta, DKI, Indonesia

Tuesday, October 31, 2006

Sholat Ied

Gema takbir di pagi hari masih berkumandang. Setelah sholat subuh saya segera mandi dan bersiap-siap untuk sholat ied di masjid kampung saya. Hal yang aneh ketika saya sholat berjamaah di masjid itu cuma sekali dalam setahun, yaitu saat sholat idul fitri ini, setelah tiga puluh hari kami menunaikan ibadah shaum ramadhan.

Pukul 6.30 ulama kampung kami naik mimbar untuk membacakan beberapa pengumuman, termasuk kas masjid, jumlah zakat fitrah dan zakat mal yang didapat panitia, serta mengingatkan kembali bacaan sholat ied. Hal yang cuma kutemui di kampung saya adalah semua pengumuman itu dibacakan dalam bahasa daerah kami, bahasa jawa banyumasan alus.

Motivasi besar saya untuk mengikuti sholat ied di masjid kampung saya sendiri adalah hal yang unik. Ketika pembacaan pengumuman maupun saat khatib naik mimbar(khutbahnya pake bahasa jawa juga), saya memperhatikan wajah-wajah penduduk kampung saya. Beberapa dari mereka adalah orang yang sangat saya kenal. Beberapa yang lain saya hanya tahu namanya. Sebagian yang lain saya bahkan tidak tahu namanya, hanya kenal muka saja. Wajah-wajah mereka ada yang berubah, ada juga yang persis sama seperti yang saya ingat dulu. Beberapa yang wajahnya berubah, perubahan wajahnya tidak meninggalkan ciri khas mereka. Ada juga orang yang dulu saya tahu namanya, namun sekarang lupa. Saya berusaha mengingat-ingat kembali namanya. Sebenarnya saya tidak ingin semakin banyak orang yang namanya saya lupakan, karena itu saya berada disini.

Kesempatan untuk bertemu mereka kembali sangatlah kecil. Saat sholat idul fitri ini adalah saat dimana semua penduduk desa yang merantau ke berbagai kota kini kembali ke kampung, termasuk teman-teman kecil saya dahulu. Diantara mereka ada yang mengadu nasib ke jakarta, ada juga yang menetap di kampung. Beberapa dari mereka ada yang bersikap canggung ketika bertemu dengan saya. Untuk mereka, saya berusaha maksimal untuk mencairkan suasana canggung itu. Perbedaan pekerjaan membuat mereka ragu-ragu bercakap-cakap dengan saya. Takutnya saya sombong atau gimana. Tapi dalam hati saya, saya tetaplah saya yang dulu, sama-sama anak kampung dan sama-sama main layangan dan kasti waktu kecil dulu.

Setelah khutbah idul fitri selesai, orang-orang tidak langsung pulang, melainkan berbaris untuk bersalaman dengan semua jamaah, sambil melantunkan shalawat nabi. Itu juga tidak akan saya lewatkan, kesempatan untuk melihat semua jamaah masjid kampung saya. Ternyata ada juga orang-orang baru, wajah-wajah penduduk baru kampung saya yang saya belum kenal. Mungkin mereka baru menikah dengan anak tetangga saya. Mungkin juga mereka beli tanah di kampung saya. Yang jelas, semuanya kini menjadi tetangga saya, warga kampung saya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home