Seribu Paragraf Cinta

karena pena bisa mengubah dunia...

Name:
Location: Jakarta, DKI, Indonesia

Thursday, April 06, 2006

Ditangkep Polwan

Di suatu rabu sore, jam pulang kerja di jalan Rasuna Said, dua orang polisi lalu lintas, keduanya perempuan, sedang sibuk mengatur lancarnya arus lalu lintas, tepatnya sebelum belokan Casablanca. Salah seorang polwan yang berdiri di pinggir jalan menunjuk ke arah motorku, menyuruh untuk minggir.
"Selamat sore pak, maaf anda melanggar pasal sekian sekian tentang penggunaan helm proyek. kalau di proyek silahkan pakai helm proyek, tapi di jalanan gunakanlah helm standar." Kira-kira begitu kata-katanya. Temanku yang membonceng (yang memakai helm proyek) segera turun dan "memohon ampun" pada sang polwan.
Ceritanya diawali ketika di kantor tadi, jeng Sri (demikian panggilan kami untuk mbak Sri yang amat sangat njawani pisan) meminta setengah memaksa untuk ikut nebeng sampai buncit, katanya ada sodaranya nunggu di perempatan buncit. Masalahnya, tidak ada helm, yang ada cuma helm proyek. Di kantorku memang banyak helm proyek dan perlengkapan safety lainnya, karena perusahaan tempatku bekerja bergerak dibidang engineering-konstruksi. Banyak tenaga kerja yang dikirim ke field.
Sebenarnya salah seorang teman kantorku sudah mengingatkan, "Kemarin ada orang pake helm proyek ditangkep polisi loh di perempatan" katanya. Tapi berhubung jeng Sri buru-buru, jadi ya sudah, saya bilang, "ga pa pa nanti jalannya di tengah aja biar ga kelihatan polisi"
Jeng Sri masih menjelaskan panjang lebar pada si polwan, yang intinya dia meminta maaf dan mohon diampuni untuk kali ini saja, katanya dia menyesal, sedang terburu-buru, dan dia juga mengaku dia yang patut disalahkan. Lucu juga, aku senyam-senyum sendiri melihatnya menjelaskan pada polantas itu dengan tergopoh-gopoh, dengan dialek Surabaya-nya yang masih kental. Tapi si polwan terlihat tidak terpengaruh oleh rengekannya.
"Saya lihat surat-suratnya dulu" kata si Polwan kepadaku. Nah ini dia masalahnya, pikirku. Selama setahun lebih mengendarai motor, aku muter-muter di Jakarta tanpa SIM. Tapi aku bersikap cool banget. Dengan innocent aku keluarkan dompetku dan menyerahkan STNK padanya. Sang polwan melihatnya dengan seksama, mencocokkan dengan plat nomor sepeda motorku, lalu memeriksa tanggal pajaknya, apakah masih berlaku. Semuanya beres.
"SIM-nya mana?" tanyanya lagi. Sejenak aku diam saja, lalu sambil cengar-cengir aku berkata "nda ada bu..."
"Nah tuh kan... saya juga tadi bilang apa... dasar kamu... terus gimana nih, ntar urusannya saya yang dipelototin sama yang lain tuh, kalo begini kan repot..." si polwan beranjak cerewet.
"Aduh tolong bu... kali iniiiii aja deh bu, saya buru-buru bu..." suara jeng Sri memelas.
"Udah deh, jeng naik bis aja sana... kayaknya ini urusannya bakal lama." Kali ini aku ambil suara. Memang keadaannya sulit, aku sudah merasa tertangkap basah dan kupikir memang sudah sepatutnya yang bersalah harus menerima konsekuensi atas kesalahannya. Aku sudah pasrah, siap menerima apa saja sanksi dari ibu polwan.
Beberapa saat kemudian, masih dalam keadaan situasi gawat itu, seorang temanku sesama motor rider lewat, tapi hanya menyapa kami saja. Ia harus tetap berjalan mengikuti arus lalu lintas yang padat merayap. Tinggal kami bertiga, aku masih tidak tahu tindakan apa yang akan diambil oleh bu polisi yang berbadan cukup besar itu.
"Ya udah, tapi besok ngga boleh lagi ya... sekarang mbak ini naik bis aja. Ngga boleh naik motor pake helm beginian..." kata ibu polwan. Lah, aku tersentak kaget ketika dengan ringannya ia mengembalikan STNK motorku, artinya STNK itu tidak ditahan, aku tidak di tilang, dan boleh pergi. Alhamdulillah... aku tidak dapat lagi menghitung kemurahan Allah di saat-saat seperti ini. Sungguh tidak kusangka hal ini terjadi. Mungkin ini karena doa tulus dari sahabat-sahabatku, atau orang tuaku. Mungkin Allah juga ingin kembali menunjukkan padaku, betapa Dia maha pemurah kepada hamba-hambaNya.
Bu polwan kembali sibuk mengatur lalu lintas. Sementara aku bersiap-siap melanjutkan perjalanan, kuberi kode pada jeng Sri bahwa aku menunggu di ujung sana (sambil menunjuk), tempat yang tak lagi terlihat oleh polantas itu, lalu aku ucapkan terima kasih banyak pada bu polisi. Setelah beberapa saat menunggu di tempat yang "aman," jeng Sri tiba dengan sedikit terengah karena berlari kecil. Kuberikan helm proyek "terlarang" itu padanya, kami tertawa bersama. "Polwannya baik banget jeng..." kataku. Mungkin bu polwan itu ngga tega sama aku, apalagi setelah tadi aku berikan senyum manis padanya.
Jakarta, 06apr06

15 Comments:

Blogger ratna said...

why, jangan lupa besok bikin SIM yah....

anyway..., Sesungguhnya pertolongan Allah begitu dekat dan nyata terasa. Bagi orang-orang yang yakin.

11 April, 2006 09:01  
Anonymous Anonymous said...

AmedL8 The best blog you have!

02 November, 2007 14:03  
Anonymous Anonymous said...

Qkw0sc Nice Article.

03 November, 2007 00:48  
Anonymous Anonymous said...

Wonderful blog.

03 November, 2007 01:37  
Anonymous Anonymous said...

Good job!

03 November, 2007 02:21  
Anonymous Anonymous said...

Please write anything else!

03 November, 2007 03:28  
Anonymous Anonymous said...

Hello all!

03 November, 2007 04:30  
Anonymous Anonymous said...

Wonderful blog.

03 November, 2007 18:01  
Anonymous Anonymous said...

Please write anything else!

03 November, 2007 22:40  
Anonymous Anonymous said...

Thanks to author.

03 November, 2007 23:43  
Anonymous Anonymous said...

Nice Article.

04 November, 2007 00:38  
Anonymous Anonymous said...

actually, that's brilliant. Thank you. I'm going to pass that on to a couple of people.

04 November, 2007 01:25  
Anonymous Anonymous said...

Vm4GH2 write more, thanks.

04 November, 2007 20:14  
Anonymous Anonymous said...

Thanks to author.

05 November, 2007 10:51  
Anonymous Anonymous said...

Thanks to author.

05 November, 2007 11:25  

Post a Comment

<< Home